Aksi BEM UI Jadi Sorotan, Ketertiban dan Kenyaman Publik Harus Dijaga

JAKARTA – Aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menjadi perhatian publik karena penyampaian aspirasi di ruang terbuka perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap ketertiban dan aktivitas masyarakat.

Kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dalam demokrasi, namun pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan aturan agar tidak menimbulkan gangguan di ruang publik.

Perhatian terhadap ketertiban semakin penting ketika aksi mahasiswa berlangsung di tengah tingginya aktivitas masyarakat. Pengaturan massa, penggunaan fasilitas umum, hingga kelancaran lalu lintas menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar penyampaian aspirasi tidak berdampak pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap berbagai konten yang beredar berkaitan dengan demonstrasi. Menurutnya, informasi yang tidak sesuai fakta dapat memperkeruh situasi dan memengaruhi persepsi publik.

“Masyarakat perlu mewaspadai konten-konten hoaks seperti itu karena dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Andreas Hugo Pareira.

Selain menjaga ketertiban di lapangan, kecermatan dalam menerima informasi menjadi tantangan lain yang menyertai aksi mahasiswa. Berbagai foto dan video dapat beredar luas dalam waktu singkat, sementara sebagian materi yang digunakan kembali belum tentu menggambarkan situasi terkini.

Politisi muda sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi NasDem M. Rizky menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan kualitas kehidupan demokrasi. Karena itu, keberanian menyampaikan kritik perlu diikuti kemampuan memahami persoalan secara utuh.

“Anak muda hari ini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Karena itu, mereka harus punya bekal demokrasi yang kuat supaya tidak mudah percaya begitu saja pada informasi yang diterima dan mampu menentukan sikap berdasarkan pengetahuan,” ujar M. Rizky.

Menurutnya, sikap kritis tidak cukup hanya ditunjukkan melalui keberanian menyampaikan pendapat. Pemahaman terhadap kebijakan, kemampuan memeriksa informasi, serta kesediaan menghormati perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi yang sehat.

“Kita ingin Gen Z menjadi generasi yang berani bersuara, tetapi juga bertanggung jawab. Kritis boleh, berbeda pilihan boleh, tetapi semuanya harus dibangun dengan pengetahuan dan cara berpikir yang sehat,” katanya.

Direktur Indonesia Political Review Iwan Setiawan menilai penyebaran informasi di luar konteks dapat menggeser substansi kritik dan memunculkan persepsi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

“Ketika informasi sengaja direkayasa untuk membentuk kebencian, maka yang terjadi bukan lagi kontrol sosial, melainkan operasi propaganda yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial,” ujar Iwan Setiawan.

Karena itu, ketertiban publik dan kualitas informasi menjadi dua hal yang perlu diperhatikan dalam setiap aksi massa. Aspirasi tetap memiliki tempat dalam demokrasi, tetapi penyampaiannya akan lebih produktif apabila dilakukan secara damai, berbasis data, dan tidak mengganggu hak masyarakat lainnya. (*)

More From Author

Aksi BEM UI Jadi Perhatian, Masyarakat Diimbau Bijak Menyikapi Informasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *